booneeque
Rabu, 19 Juni 2013
Belajar Menulis
Di tengah kondisi pelemahan ekonomi di berbagai kawasan, perekonomian Indonesia di
tahun 2012 tetap mampu menunjukkan kinerja yang cukup baik. Kondisi fundamental
ekonomi tetap terjaga, meskipun pertumbuhan PDB melambat. Laju inflasi tetap terjaga
dan mencapai tingkat 4,3 persen, jauh lebih rendah dari target APBNP 2012 sebesar
6,8 persen. Kondisi tersebut merupakan hasil dari langkah-langkah yang telah ditempuh
untuk mengantisipasi gejolak harga komoditas penting di pasar domestik, serta upaya
menjamin kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Keberhasilan kinerja ekonomi domestik tidak saja tampak dari peningkatan pertumbuhan
ekonomi, tetapi juga tampak pada respon pasar internasional terhadap kondisi pasar modal
domestik. Peningkatan kepercayaan investor tercermin pada pergerakan indeks harga saham
gabungan (IHSG), yang telah meningkat dari 3.809,1 di awal tahun 2012 menjadi 4.316,9
pada akhir tahun 2012, atau meningkat sebesar 12,94 persen. Peningkatan ini terus berlanjut
hingga bulan April tahun 2013, ketika IHSG bahkan telah meningkat sebesar 17 persen
menuju level 5.034, yang sekaligus merupakan level tertingginya sepanjang sejarah.
Peningkatan minat investor juga terlihat pada instrumen obligasi pemerintah yang
mendorong penurunan tingkat imbal hasil surat-surat utang Pemerintah Indonesia. Tingginya
kinerja instrumen pasar portofolio antara lain ditandai oleh tingginya minat asing pada
instrumen investasi di Indonesia. Namun terkait hal tersebut perlu diwaspadai adanya risiko
penarikan dana secara tiba-tiba (sudden reversal). Likuiditas pasar dalam negeri yang cukup
terjaga mampu memberikan ruang yang cukup bagi stabilitas tingkat suku bunga yang wajar
yang mampu mendukung perkembangan aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Nota Keuangan dan RAPBNP 2013 2-5
Bab 2 Perkembangan Asumsi Dasar Ekonomi Makro
Cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan dari US$110,1 miliar di akhir tahun
2011 menjadi US$112,78 miliar di akhir tahun 2012. Peningkatan cadangan devisa tersebut
memberikan daya tahan yang lebih baik bagi upaya untuk mengurangi tekanan volatilitas
nilai tukar yang cukup besar. Nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2012 bergerak dengan
volatilitas yang cukup besar disertai depresiasi bila dibandingkan dengan tahun 2011. Rata-
rata nilai tukar mencapai Rp9.384 per US$ di tahun 2012, lebih lemah dari rata-rata nilai
tukar tahun sebelumnya sebesar Rp8.779 per US$. Pelemahan tersebut terutama disebabkan
oleh defisit neraca perdagangan yang terjadi di tahun tersebut. Selama periode Januari-April
2013, nilai tukar bergerak pada kisaran Rp9.700 per US$.
Sementara itu, pergerakan harga Indonesian Crude Price (ICP) yang terutama dipengaruhi
pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami peningkatan. Harga rata-rata ICP yang
pada tahun 2010 berada di level US$79,4 per barel telah meningkat drastis menjadi US$111,55
per barel di tahun 2011. Pada tahun 2012, ICP kembali meningkat dengan harga rata-rata
mencapai US$112,73 per barel. Di tahun 2013, harga minyak mentah dunia diperkirakan
akan menurun, namun masih bertahan di atas US$100 per barel.
Perkembangan kondisi perbankan tahun 2012 masih menunjukkan perkembangan cukup
baik. Kebijakan makro prudensial telah diterapkan untuk mencegah terjadinya bubble burst
di sektor keuangan, antara lain melalui penerapan Loan To Value Ratio (LTV). Strategi
kebijakan tersebut mampu meredam ekspansi sektor keuangan namun tetap mencapai
pertumbuhan yang cukup sehat. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di akhir tahun
2012 mencapai Rp3.225,1 triliun, atau tumbuh sebesar 15,84 persen yang berarti tumbuh
lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 19 persen. Total
penyaluran kredit mencapai Rp2.738 triliun atau tumbuh 23,13 persen, melambat bila
dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 24,67 persen. Namun,
kombinasi kedua variabel tersebut masih mendorong peningkatan Loan to Deposit Ratio
(LDR) dari 78,77 persen di tahun 2011 menjadi 83,58 persen di tahun 2012. Perkembangan
tersebut memberikan sinyal membaiknya fungsi intermediasi perbankan. Peningkatan
penyaluran kredit dilakukan tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko.
Kondisi tersebut tercermin di akhir tahun 2012 ketika rasio kredit bermasalah (Non Performing
Loan/NPL) tetap terjaga di bawah 5 persen, yaitu pada 1,9 persen dan rasio kecukupan modal
(Capital Adequacy Ratio/CAR) berada jauh di atas 8 persen, yaitu mencapai 17,3 persen.
Perekonomian Indonesia masih tumbuh kuat di tengah ketidakpastian perekonomian global.
Selama lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai sebesar 5,9 persen
dan dalam tiga tahun terakhir selalu mencapai pertumbuhan di atas 6 persen. Pada tahun
2012 ekonomi tumbuh sebesar 6,2 persen, melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan
tahun 2011 yang sebesar 6,5 persen dan jauh lebih rendah dari target dalam APBNP 2012
sebesar 6,5 persen. Lemahnya kinerja ekonomi global memberikan dampak yang nyata pada
sisi eksternal PDB. Ekspor neto mengalami kontraksi yang cukup dalam, yaitu sebesar minus
13,7 persen, jauh menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mampu
tumbuh 14,7 persen. Sementara itu, masih kuatnya permintaan domestik utamanya konsumsi
rumah tangga dan investasi menjadi sumber pendorong pertumbuhan ekonomi di tahun
2012. Tingginya investasi tercermin pada peningkatan arus investasi langsung baik domestik
maupun asing (Foreign Direct Investment/FDI) di sepanjang tahun 2012 dan terus berlanjut
hingga awal tahun 2013. Dari sisi penawaran, tercatat tiga sektor yang mempunyai kontribusi
besar terhadap pertumbuhan ekonomi, yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan
hotel dan restoran, serta sektor pengangkutan dan komunikasi.
Langganan:
Postingan (Atom)